preloader
  Back   

HIKMAT YANG MENGENYANGKAN

Di era digital ini, kita sering melihat ribuan orang rela mengantre berjam-jam demi membeli makanan yang sedang viral. Mereka mengorbankan waktu, tenaga, bahkan uang yang  
tidak sedikit. Ironisnya, setelah makanan itu habis dikonsumsi dalam hitungan menit, rasa kenyangnya hilang dalam beberapa jam, dan rasa lapar yang sama akan kembali.  

Fenomena ini adalah potret akurat hidup kita. Kita sering menghabiskan seluruh energi untuk mengejar berkat materi dan jaminan lahiriah. Namun, kita lupa bahwa perkara materi tidak pernah bisa memuaskan kelaparan/kekosongan terdalam jiwa kita. Banyak orang kaya secara materi, tetapi jiwanya mengalami malnutrisi karena hidup tanpa tuntunan Tuhan.  

Mengejar hal lahiriah secara berlebihan ditolak melalui kisah Raja Salomo dalam 1 Raja-raja 4-5. Allah memang menganugerahkan kemakmuran dan kemegahan lahiriah yang luar biasa kepada Israel. Namun, fondasi utama dari seluruh kejayaan itu bukanlah kekayaannya, melainkan "chokmah"—yaitu hikmat ilahi yang Allah taruh di dalam hati  
Salomo. Tanpa hikmat Tuhan, kelimpahan materi hanya akan menjadi jerat yang membinasakan.  

Ketidakmampuan materi dalam memuaskan manusia ditegaskan kembali oleh Tuhan Yesus dalam Yohanes 6:25-59. Tuhan Yesus menegur orang banyak yang berbondong-bondong mencari-Nya, bukan karena mereka memahami tanda mukjizat-Nya, melainkan  
karena perut mereka kenyang oleh roti gratis ("brosis"). Tuhan Yesus menantang mereka untuk beralih dari pencarian materi yang fana kepada "artos tes zoes"—Roti Hidup.  
Kebutuhan terbesar kita bukanlah mukjizat materi yang menyelesaikan masalah perut (sekali lagi bukan roti “soes” ya), melainkan hubungan karib dengan diri Tuhan Yesus  
sendiri.  

Mengapa kita begitu mudah terjebak pada pengejaran materi yang semu? Mazmur 119:113-120 mendiagnosisnya sebagai kondisi "se'aphim", yaitu hati yang bercabang atau mendua. Ketika fokus kita terpecah antara bersandar pada Tuhan dan bersandar pada jaminan dunia, kita menjadi rapuh dan cemas.
Pemazmur mengajarkan bahwa obat dari hati yang bercabang adalah mencintai firman Tuhan dan menjadikannya sebagai perisai  
hidup. 

Berkat materi adalah bonus, tetapi hikmat Tuhan adalah kebutuhan utama. Kelimpahan tanpa hikmat hanya akan berujung pada kehampaan. Jangan habiskan hidup Anda hanya untuk mengantre dan mengejar hal-hal yang dapat membusuk. Datanglah kepada Tuhan Yesus, sang Roti Hidup, dan mintalah hikmat-Nya setiap hari untuk menuntun jiwa kita pada kepuasan yang sejati. Tuhan Yesus Kristus memberkati kita semua! (JPT)

Share