preloader
  Back   

UJIAN TERAKHIR SEORANG KONTRAKTOR

“Setiap jalan orang adalah lurus menurut pandangannya sendiri, tetapi Tuhanlah yang menguji hati” (Amsal 21:2)

Selama lebih dari tiga puluh tahun Arthur dikenal sebagai pemborong dengan reputasi tinggi. Setiap rumah yang dibangunnya mencerminkan integritas seorang pemborong sejati yang memperhatikan setiap detail bangunannya mulai dari fondasi, sistem ledeng, sambungan listrik sampai atap menunjukkan Arthur seorang yang profesional. Dia memperhatikan setiap tahap pembangunan dengan cermat. Dia selalu memilih tukang terbaik agar setiap bangunan—khususnya rumah—yang dibangun bukan hanya indah tetapi bisa bertahan dari generasi ke generasi.

Suatu hari, karena usia, dia memutuskan untuk pensiun. Di saat terakhirnya di kantor, Jonathan, seorang pelanggan setia datang dan berkata, “Arthur, tolong buatkan saya rumah sebagai karya terakhirmu.”
Meskipun hatinya berat untuk melakukannya, karena Jonathan adalah pelanggan setia, dia menyanggupinya. Di sinilah, integritasnya mulai goyah. Dia berpikir, “Jonathan punya banyak uang. Ini salah satu propertynya. Tidak ada salahnya jika kali ini saya tidak mengerjakannya seperti biasanya. Toh sebentar lagi saya pensiun.”

Dengan pemikiran seperti itulah dia tidak lagi meng-hire mandor dan tukang yang profesional. 
Tukang yang baru belajar pun dia pakai. Fondasinya dia buat asal-asalan, yang penting rumahnya tidak roboh. Pengerjaan lantai, dinding dan atap pun tidak sedetail yang dulu. Kekurangan-kekurangan kecil dia tambal pakai dempul yang tebal. 
Akhirnya rumah itu jadi dan tampak tidak ada bedanya dengan rumah-rumah yang biasa dia bangun selama ini. Jonathan pun puas. 

Dia tidak meneliti bangunan itu. Dengan tersenyum dia serahkan kembali kunci rumah itu kepada Arthur sambil berkata, “Arthur, engkau adalah sahabatku yang baik dan setia. Sebenarnya, saya tidak membutuhkan rumah ini. Saya sengaja membuatnya untukmu sebagai hadiah pensiunmu. Saya persembahkan rumah ini untukmu dan istrimu.” Arthur membisu seribu bahasa. Pikirannya kacau seketika. Air mata perlahan mengalir di pipinya yang mulai berkerut. Penyesalan seringkali datang terlambat.

Sobat bijak, apa yang Arthur alami merupakan pelajaran yang paling indah bagi kita. Jangan sampai persahabatan kita yang sudah puluhan tahun dirusak oleh ketidakjujuran, apalagi oleh kekuasaan dan ketamakan akan uang. Kalau kita lanjutkan membaca Kitab Amsal 2 ayat 8, kita akan semakin belajar sungguh-sungguh untuk berintegritas: “Berliku-liku jalan si penipu, tetapi orang yang jujur lurus perbuatannya” (Amsal 21:8). 

Jangan kita gantikan yang ‘lurus’ menjadi ‘bulus’ karena kita punya sahabat sejati yang paling tulus: Tuhan Yesus Kristus. (XQP)
Doa: Bapa ajar aku untuk tidak gampang silau oleh jabatan dan kemilau harta benda. Biarlah Roh Kudus senantiasa pimpin aku seumur hidupku agar hatiku tetap LURUS dan TULUS.

Share