Back   
LEBIH BIJAK KARENA FIRMAN
"Perintah-Mu membuat aku lebih bijaksana dari musuh-musuhku... Aku lebih berakal budi dari semua pengajarku, sebab peringatan-peringatan-Mu kurenungkan. Aku lebih mengerti dari orang-orang tua, sebab aku memegang titah-titah-Mu" (Mazmur 119:98–100)
Bayangkan dua orang yang sedang mempersiapkan ujian yang sama. Yang pertama membaca buku teks dari awal hingga akhir, menandai setiap konsep penting, dan membacanya berulang-ulang. Yang kedua hanya membacanya sekilas dan lebih mengandalkan cerita temannya. Saat hari ujian tiba, kira-kira siapa yang masuk ruang kelas dengan percaya diri dan tenang?
Kitab Mazmur menggambarkan sesuatu yang serupa. Dalam Mazmur 119:98–100, penulis membuat pernyataan yang berani: waktu yang dihabiskan bersama firman Tuhan akan menghasilkan kebijaksanaan yang melampaui apa yang bisa diberikan oleh pengalaman, status, atau pendidikan formal. Ada 3 Hal yang bisa kita pelajari:
Pertama: Firman Tuhan menjadi Pusat
Pemazmur memberi kesaksian bahwa perintah Tuhan selalu bersamanya, bukan hanya sesekali, tetapi terus-menerus. Ini bukan soal menghafal ayat-ayat saja, melainkan tentang mengubah cara berpikir. Ketika firman Tuhan menjadi bagian penting dalam ritme hidup kita, firman itu mulai membentuk cara kita membaca situasi, membangun hubungan, dan keputusan. Firman itu menjadi kompas kehidupan, bukan hanya buku petunjuk yang kita buka saat keadaan darurat.
Kedua: Merenungkan Firman
Pemazmur mengaitkan wawasan yang lebih besar dari para gurunya pada satu realita yaitu ia merenungkan ketetapan Tuhan. Merenungkan di sini bukan berarti duduk diam secara pasif, ini berarti mencoba melihat kebenaran yang sama dari berbagai sudut pandang, membiarkannya bekerja dalam diri kita dari waktu ke waktu. Guru yang bijak bisa menyampaikan informasi dengan cepat, tetapi tidak ada jalan pintas untuk membuat sebuah kebenaran mengendap ke dalam pemahaman kita. Firman yang direnungkan menjadi sesuatu yang benar-benar kita pahami dan mengerti, bukan hanya sesuatu yang kita tahu.
Ketiga: Ketaatan adalah kunci
Terakhir, pemazmur berkata ia lebih bijak dari orang-orang tua karena ia menaati firman Tuhan. Inilah bagian yang sering kali terlupakan. Kebijaksanaan bukan hanya bersifat intelektual, namun terwujud dalam pilihan-pilihan kita setiap hari. Orang-orang tua punya pengalaman hidup selama puluhan tahun, yang layak dihormati. Namun orang yang secara konsisten bertindak sesuai firman Tuhan mengembangkan pemahaman yang praktis dan teruji, sesuatu yang tidak bisa dihasilkan oleh usia.
Kebijaksanaan semacam ini bukan hanya milik para sarjana atau mereka yang sudah berumur. Ini tersedia bagi siapa saja yang mau mendalami firman Tuhan dengan setia, merenungkannya dengan sungguh-sungguh, dan benar-benar hidup sesuai dengan firman itu. Itu adalah strategi terbaik dalam menghadapi setiap ujian kehidupan, AMIN. (ES)