preloader
  Back   

MENGASIHANI DIRI

‘Jawabnya: “Aku bekerja segiat-giatnya bagi Tuhan, Allah semesta alam, karena orang Israel meninggalkan perjanjianMu, meruntuhkan mezbah-mezbahMu dan membunuh nabi-nabiMu dengan pedang; hanya aku seorang dirilah yang masih hidup, dan mereka ingin mencabut nyawaku”’ (1 Raja-raja 19:14)

Elia adalah seorang hamba Tuhan yang berani dalam membela nama-Nya. Ia tidak tahan melihat perbuatan bangsa Israel yang meninggalkan perjanjian mereka dengan Allah dan hidup jauh dari-Nya. Namun setelah Tuhan menunjukkan kebesaran-Nya melalui Elia dan ia membunuh empat ratus lima puluh orang nabi Baal, ia ketakutan terhadap ancaman Izebel. Iapun melarikan diri ke gunung Horeb.

Di atas gunung ini Tuhan bertanya kepada Elia, mengapa ia berada di sini? Mengapa ia berada dalam kondisi depresi sampai ia ingin Tuhan mengambil nyawanya? Dari jawaban Elia menunjukkan ia sedang mengasihani dirinya, ia merasa sudah membela nama Tuhan dengan sangat giat namun hasilnya malah ia hendak dibunuh. Ia ditinggalkan seorang diri. Elia menunjukkan kekesalannya kepada Tuhan, seakan-akan ia merasa bahwa  perjuangannya selama ini sia-sia karena Tuhan tidak membelanya.

Bukankah kita seringkali berada dalam kondisi seperti ini? Kita merasa sudah hidup benar, melayani Tuhan dengan aktif, berhubungan baik dengan orang-orang di sekitar, bekerja dengan giat dan benar, namun situasi dan keadaan seakan-akan tidak berpihak kepada kita. Kalau tidak hati-hati kita bisa terjebak pada perasaan mengasihani diri sendiri. 

Celah ini bisa menjadi alat bagi Iblis untuk membuat kita merasa menjadi korban. Dia bisa menyerbu pikiran kita bahwa pelayanan kita selama ini sia-sia, seakan-akan Tuhan tidak peduli dengan apa yang kita alami dan membiarkan kita dihancurkan oleh masalah yang timbul, benarkah demikian? Tentu tidak. Allah tidak pernah merancangkan yang jahat bagi anak-anak-Nya. Pikiran dan pandangan kita sangat terbatas, sedangkan Tuhanlah yang memegang masa depan, kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi di kemudian hari. 

Bercermin dari kejadian Elia dalam ayat di atas, sebenarnya Elia tidak sendirian menentang Baal, ada tujuh ribu orang yang berprinsip sama dengannya. Pandangan, perasaan, pikiran kita dapat menipu karena dipengaruhi oleh situasi sekitar. Di kemudian hari ternyata Elia dijemput oleh Allah dengan kereta berapi dan kuda berapi, terangkat naik ke Sorga. Ia tidak mengalami kematian namun terangkat hidup-hidup, sebuah peristiwa adikodrati yang luar biasa. 

Keadaan depresinya pada waktu di kejar-kejar oleh Izebel ternyata tidak beralasan. Jauhilah perasaan mengasihani diri sendiri, karena Tuhan punya rencana yang jauh lebih baik. Masa depan ada di tanganNya dan semuanya adalah untuk kebaikan bagi kita yang mengasihi Dia dengan sungguh. (AD)

Share